Yusril Ingatkan Ancaman Geopolitik Global: “Kalau Perang, Indonesia Mungkin Bertahan 4 Hari”

SURABAYA, Update Cerita Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengingatkan posisi Indonesia yang dinilai semakin rawan di tengah memanasnya situasi geopolitik global.

Pernyataan tersebut disampaikan Yusril dalam Seminar Nasional di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), saat membahas tantangan hukum internasional, ketahanan nasional, serta perebutan sumber daya strategis dunia.

Dalam pemaparannya, Yusril menilai hukum internasional saat ini mulai kehilangan kewibawaannya di hadapan negara-negara besar yang lebih mengedepankan kepentingan politik dan ekonomi nasional masing-masing.

Ia menyinggung meningkatnya perebutan sumber daya energi, minyak, hingga mineral strategis seperti Rare Earth Elements (REE) yang kini menjadi kebutuhan utama dalam pengembangan teknologi modern, kendaraan listrik, hingga industri pertahanan global.

Menurut Yusril, Indonesia memiliki posisi strategis karena kekayaan sumber daya alamnya, namun kondisi tersebut juga berpotensi menghadirkan tantangan besar apabila tidak diantisipasi dengan penguatan pertahanan dan diplomasi nasional.

Dalam kesempatan itu, Yusril juga menyoroti keterbatasan kemampuan logistik pertahanan Indonesia apabila menghadapi konflik modern berskala besar.

“Kalau kita perang, paling kita mampu hanya 4 hari. Angkatan Laut kita, Angkatan Udara kita, mungkin hanya bertahan 4 hari karena kehabisan amunisi,” ujar Yusril.

Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian publik dan memicu diskusi luas terkait kesiapan pertahanan nasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia.

Meski demikian, Yusril menegaskan bahwa pendekatan diplomasi yang selama ini ditempuh Indonesia melalui politik luar negeri bebas aktif merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nasional dan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik global.

Ia menilai Indonesia perlu terus memperkuat ketahanan nasional, baik di sektor pertahanan, ekonomi, maupun diplomasi, agar mampu menghadapi dinamika geopolitik internasional yang semakin kompleks.

Hingga kini, pernyataan tersebut terus menjadi pembahasan di berbagai kalangan, terutama terkait kesiapan pertahanan nasional dan posisi Indonesia dalam peta persaingan global ke depan.(Syah)

UpdateCerita TV