Remaja 17 Tahun Diduga Tawuran Tewas Kena Peluru Dari Tangan Kapolres Belawan
MEDAN, Update Cerita Indonesia – Suasana mencekam menyelimuti kawasan Jalan Tol Belmera, Medan Belawan, Minggu malam. Dentuman mercon bersahut-sahutan, batu beterbangan, dan puluhan remaja terlibat dalam tawuran brutal yang mengganggu ketertiban umum.
Di tengah kekacauan itu, sebuah keputusan fatal mengakhiri hidup seorang remaja bernama M Suhada (17). Ia tewas setelah terkena peluru yang dilepaskan oleh Kapolres Belawan, AKBP Oloan Siahaan.
Kronologi bermula saat AKBP Oloan sedang menjalankan patroli rutin bersama anggotanya. Ketika melintasi Jalan Tol Belmera, ia mendapati sekelompok remaja terlibat bentrok.
Melihat situasi memburuk, Kapolres turun langsung untuk membubarkan kerumunan. Tembakan peringatan sempat dilepaskan ke udara sebagai upaya awal mengendalikan massa. Namun, situasi justru memanas: mobil polisi diadang dan dilempari dengan batu serta mercon oleh para pelaku tawuran.
Dalam situasi penuh tekanan, AKBP Oloan mengambil keputusan untuk menembak ke arah kaki salah satu pelaku guna meredam situasi. Namun karena pencahayaan yang buruk dan kondisi yang tidak terkendali, peluru malah mengenai bagian tubuh M Suhada, yang akhirnya meninggal dunia. Satu remaja lainnya, berinisial B (17), mengalami luka tembak di bagian tangan. Keduanya sempat dilarikan ke RS Bhayangkara Medan, namun nyawa Suhada tak tertolong.
Peristiwa ini langsung menyita perhatian publik dan aparat kepolisian. Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Whisnu Hermawan, mengungkapkan rasa belasungkawa atas insiden tersebut.
Ia memastikan bahwa Polda Sumut akan mengusut tuntas kejadian ini secara transparan.
"Kami sudah membentuk tim khusus untuk menyelidiki tindakan Kapolres Belawan. Jika ditemukan kesalahan, tentu akan ada konsekuensi. Jika sesuai prosedur, hal itu juga akan kami ungkap ke publik," ujar Whisnu dalam keterangan pers.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, menjelaskan bahwa AKBP Oloan menggunakan hak diskresi kepolisian karena nyawa dan keselamatan petugas dalam situasi tersebut terancam.
"Beliau terpaksa mengambil tindakan setelah kendaraan dinasnya diadang dan diserang," jelas Ferry.
Meski demikian, kematian seorang remaja dalam penanganan hukum tetap menjadi pukulan serius bagi citra kepolisian. Masyarakat menuntut kejelasan, keadilan, dan pertanggungjawaban yang proporsional. Di sisi lain, muncul juga dukungan bagi aparat yang bekerja dalam tekanan ekstrem demi menjaga ketertiban.
Kini, mata publik tertuju pada tim khusus Polda Sumut. Hasil penyelidikan mereka akan menjadi tolak ukur bagi komitmen institusi dalam menjunjung prinsip keadilan dan transparansi.
Bagi keluarga M Suhada, yang kehilangan anak dalam usia belia, rasa duka bercampur harap: agar tragedi ini tidak sekadar menjadi angka statistik, tetapi pelajaran bagi aparat dan masyarakat agar kekerasan tak lagi jadi solusi.(Syah)