Refleksi Idul Adha 1447 H, Haedar Nashir Kritik Korupsi dan Budaya “Aji Mumpung”
JAKARTA, Update Cerita Indonesia – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyoroti masih lebarnya kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia dalam refleksi Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Dalam pesannya, Haedar menilai masih terdapat segelintir kelompok yang menguasai sebagian besar kekayaan negeri, sementara di sisi lain masyarakat masih dihadapkan pada berbagai persoalan seperti korupsi, konflik sosial, hingga perilaku “aji mumpung” yang merugikan kepentingan publik.
Menurut Haedar, kondisi tersebut menunjukkan masih lemahnya implementasi nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa Idul Adha seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata, tetapi menjadi momentum memperkuat spiritualitas dan kepedulian sosial.
“Jangan sampai manusia hanya mengabdi pada hasrat ketamakan tanpa peduli dampaknya bagi kehidupan orang lain dan lingkungan,” ujar Haedar Nashir dalam refleksi Idul Adha 1447 Hijriah.
Ia menambahkan, semangat pengorbanan dan keikhlasan yang terkandung dalam Idul Adha perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat luas serta memperkuat persatuan bangsa.
Haedar juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih adil, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Menurutnya, nilai-nilai ketakwaan harus tercermin dalam sikap sosial, kepemimpinan, serta pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan sosial di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut moralitas, integritas, dan tanggung jawab kemanusiaan.(Man)