Rangga, Anak Anggota DPRD Bogor: “Pernyataan Sekdes Mekarsari Hoaks dan Memprovokasi!
BOGOR, Update Cerita Indonesia – Polemik insiden pembubaran brutal di Angkringan Warles, Jalan Raya Cileungsi–Jonggol, RT 12 RW 05 Desa Mekarsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, terus bergulir.
Salah satu korban dalam peristiwa yang terjadi pada Sabtu malam, 21 September 2025, Rangga, anak dari Rudi Sabana, anggota DPRD Kabupaten Bogor Komisi I dari Partai NasDem, mengecam keras pernyataan Sekretaris Desa (Sekdes) Mekarsari, Dede Firdaus, di salah satu media online.
Menurut Rangga, pernyataan Sekdes tersebut adalah hoaks dan menyesatkan, karena yang bersangkutan tidak berada di lokasi kejadian namun seolah mengetahui kronologi sebenarnya.
“Saya korban, saya yang mengalami. Kalau tidak ada di lokasi dan tidak tahu kejadian, jangan sok tahu dan membuat pernyataan hoaks,” tegas Rangga saat ditemui Update Cerita Indonesia di lokasi kejadian, Kamis malam (23/10/2025).
Rangga juga membantah pernyataan Kanit Reskrim Polsek Cileungsi di salah satu media online yang menyebut dirinya “menolak disuruh pulang”.
“Saya balik lagi karena kunci motor, HP, dan dompet saya tertinggal di meja. Saat kembali, kunci dan HP sudah diamankan rekan saya, tapi dompet saya hilang. Jadi bukan menolak disuruh pulang,” jelasnya.
Rangga menilai pernyataan Sekdes Dede Firdaus justru memperkeruh suasana dan terkesan melindungi oknum aparatur desa yang bertindak brutal dan anarkis.
“Sebagai pelayan masyarakat, seharusnya Sekdes membuat pernyataan yang menyejukkan, bukan membela aparat desa yang anarkis. Pernyataan seperti itu bisa memperparah konflik sosial,” ujarnya.
Setelah situasi di lokasi sedikit kondusif, Rangga mengaku sempat menemui Ketua BPD, Kadus, dan aparat desa untuk meminta klarifikasi secara baik-baik terkait pemukulan terhadap dirinya.
“Saya datang dengan sopan, minta dijelaskan soal pemukulan dan berharap warga yang memukul saya bisa dihadirkan sebelum saya buat laporan ke polisi. Tapi mereka bilang tidak bisa dan mempersilakan saya buka LP saja,” terangnya.
Kesaksian berbeda datang dari Bagus, warga yang turut berada di lokasi kejadian. Ia membenarkan bahwa memang terjadi pemukulan terhadap Rangga oleh seseorang berinisial R, warga Desa Mekarsari.
“Saya saksi langsung. Korban dipukul di punggung, sebelum ada salah warga langsung rangkul dan lindungi kepalanya agar tidak kena pukul lagi. Kalo tidak diselamatkan mungkin lebih parah Jadi pernyataan Sekdes itu jelas hoaks,” ungkap Bagus.
Bagus menambahkan, selama kejadian tidak satu pun aparatur desa yang berusaha melerai atau menghentikan massa, padahal tindakan mereka sudah mengarah pada anarkisme dan perusakan.
“Miris, tidak ada yang melarang. Massa menendang meja, kursi, bahkan membakar bangku milik angkringan Warles. Aparat desa diam saja seolah membiarkan,” tegasnya.
Masyarakat Mekarsari menilai kasus ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mereka mendesak pemerintah Kabupaten Bogor, kepolisian, dan camat Cileungsi untuk turun tangan mengusut tuntas tindakan kekerasan, pembiaran aparatur desa, serta penyebaran informasi hoaks yang memperkeruh keadaan.(F)