Polemik Menu MBG Di SDN 1 CIbatok Mencuat, Orang Tua Ajukan Kritik Komposisi Menu

BOGOR, Update Cerita Indonesia — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah layanan SPPG Bogor Cibungbulang Cimanggu 2 kembali menjadi perhatian setelah adanya perbedaan pandangan antara pihak pengelola dan sejumlah orang tua siswa terkait komposisi menu yang disajikan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, S.H., M.H.Kes., MARS., menyampaikan bahwa berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan evaluasi administratif, menu yang disajikan dalam program tersebut telah memenuhi standar gizi sesuai pedoman teknis Program MBG.

Kepala Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) SDN 1 Cibatok dari Yayasan Lentera Riyadul Hikmah, Henning, juga menegaskan bahwa pelaksanaan program telah berjalan sesuai ketentuan.

“Tidak ada pengurangan anggaran maupun penyimpangan dari standar gizi dalam pelaksanaan program ini,” ujarnya dalam keterangan sebelumnya.

Namun demikian, sejumlah orang tua siswa menyampaikan masukan dan pertanyaan terkait komposisi menu yang diterima anak-anak mereka. Salah seorang wali murid berinisial RH menilai komposisi menu perlu dikaji kembali agar sesuai dengan standar gizi yang diharapkan.

“Yang menjadi pertanyaan kami adalah standar komposisinya. Hari ini anak-anak hanya menerima nasi, telur, tahu, dan buah pisang. Kami juga mempertanyakan kelengkapan unsur sayur sebagai bagian penting dari gizi seimbang,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Menurut RH, keberadaan sayuran dalam menu dinilai belum terlihat signifikan, sehingga ia berharap adanya penjelasan lebih lanjut dari pihak pengelola program.

Berdasarkan Buku Pedoman Standar Gizi Program Makan Bergizi Gratis, menu ideal mencakup unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, buah, serta sumber lemak dengan takaran tertentu. Misalnya, sumber karbohidrat dapat berasal dari nasi sekitar 100 gram, protein hewani dari telur atau sumber lain, protein nabati seperti tahu atau tempe, sayur sekitar 100 gram, serta buah sebagai pelengkap kebutuhan vitamin.

Menanggapi masukan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menyatakan akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program, termasuk memastikan kesesuaian menu dengan standar gizi yang telah ditetapkan.

Dinkes juga menyampaikan bahwa partisipasi masyarakat, termasuk orang tua siswa, merupakan bagian penting dalam pengawasan dan peningkatan kualitas program.

Program MBG sendiri merupakan upaya pemerintah untuk mendukung pemenuhan gizi anak usia sekolah guna menunjang tumbuh kembang serta meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda.

Hingga saat ini, pelaksanaan program masih berlangsung dan instansi terkait menyatakan terbuka terhadap masukan sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan.(F)

UpdateCerita TV