Pelatihan Sopir Disorot Usai Tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

JAKARTA, Update Cerita Indonesia – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap temuan baru terkait kecelakaan tragis di perlintasan rel Bekasi Timur yang melibatkan taksi Green SM, KRL Commuter Line, dan KA Argo Bromo Anggrek. Berdasarkan hasil investigasi awal dari data onboard kendaraan, pengemudi taksi diketahui beberapa kali menginjak pedal gas saat posisi transmisi masih berada pada mode “N” atau netral.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyebut kondisi tersebut menjadi perhatian tim investigasi karena kendaraan tidak bergerak meski pedal gas diinjak lebih dari 50 persen. Bahkan, dalam rekaman data kendaraan, posisi transmisi sempat berpindah ke mode “P” atau parkir ketika mobil masih berada di atas rel kereta.

“Dari data yang kami pelajari, terdapat upaya akselerasi berulang. Namun posisi transmisi tidak berada pada mode berjalan sehingga kendaraan tetap diam,” ujar Soerjanto dalam keterangan yang diterima media.

KNKT juga menyoroti aspek kesiapan pengemudi. Berdasarkan hasil penelusuran sementara, sopir taksi tersebut diketahui baru bekerja selama tiga hari setelah direkrut melalui program job fair. Pelatihan yang diberikan kepada pengemudi disebut berlangsung singkat sebelum mulai beroperasi di lapangan.

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan terkait standar rekrutmen dan pembekalan pengemudi angkutan berbasis aplikasi, khususnya dalam menghadapi situasi darurat di jalan maupun di area perlintasan sebidang.

Peristiwa nahas di Bekasi Timur itu berujung pada tabrakan beruntun yang melibatkan rangkaian KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek. Benturan keras menyebabkan kepanikan penumpang serta kerusakan parah pada salah satu gerbong perempuan Commuter Line.

Hingga kini, KNKT masih mendalami faktor teknis kendaraan, prosedur keselamatan pengemudi, serta sistem pengamanan di lokasi perlintasan guna memastikan penyebab utama kecelakaan. Investigasi dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Sejumlah pihak mendorong agar hasil investigasi tidak berhenti pada faktor human error semata, melainkan turut mengevaluasi sistem pelatihan pengemudi, pengawasan operasional perusahaan transportasi, hingga keselamatan perlintasan kereta api di kawasan padat kendaraan.(Syah)

UpdateCerita TV