Lapor Pak Kapolres! Jatiasih Darurat Tramadol dan Eksimer, Generasi Muda Terancam Polri Harus Turun Tangan
BEKASI, Update Cerita Indonesia – Maraknya peredaran obat keras jenis Tramadol dan Eksimer di wilayah Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, memantik keprihatinan sejumlah aktivis dan pemerhati sosial. Salah satunya datang dari Johner Simanjuntak, aktivis sosial sekaligus pemerhati kebijakan publik, yang menilai fenomena ini sudah masuk tahap mengkhawatirkan karena banyak penggunanya berasal dari kalangan pelajar.
“Marak peredaran obat-obatan Eksimer dan Tramadol yang disinyalir dapat merusak jaringan otak penggunanya, bahkan mengancam masa depan bangsa,” ujar Johner, Selasa (4/11/2025).
Menurut Johner, aparat penegak hukum harus bertindak tegas karena praktik jual beli obat terlarang tersebut kerap kembali terjadi meski telah dilakukan penertiban.
“Ketika pedagang obat sudah ditertibkan, dalam waktu dua atau tiga hari mereka buka lagi dengan kedok jualan kosmetik atau toko kelontong,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya upaya menyelamatkan generasi muda dari dampak penyalahgunaan obat keras.
“Saya berharap agar anak muda mentalnya bisa diselamatkan. Saya melihat banyak generasi sekarang kehilangan arah dan semangat hidup akibat efek Eksimer dan Tramadol,” tegas Johner.
Johner juga mendesak Pemerintah Kota Bekasi bersama Polres Metro Bekasi Kota untuk bergerak cepat melibatkan seluruh unsur, mulai dari Dinas Pendidikan, tokoh masyarakat, hingga Kelurahan RT/RW, dalam program penyuluhan bahaya penyalahgunaan obat keras.
“Setiap kelurahan harus aktif. Polri, Dinas Pendidikan, dan tokoh masyarakat perlu turun langsung melakukan penyuluhan dan pencegahan agar ruang gerak penjual Tramadol ilegal semakin sempit,” tambahnya.
Ia juga mengimbau Polsek Jatiasih dan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pemberantasan peredaran dua jenis obat berbahaya tersebut.
“Banyak orang tua merasa was-was dengan maraknya Tramadol dan Hexymer karena anak-anak laki-laki atau saudara mereka bisa jadi korban,” ucapnya.
Menurutnya, harga Tramadol dan Eksimer yang murah membuat obat ini mudah diakses anak-anak.
“Karena sangat terjangkau, anak-anak pun bisa beli. Ini jelas merusak generasi bangsa. Saya minta para orang tua memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Johner menyerukan agar masyarakat turut berpartisipasi aktif.
“Kalau menemukan transaksi mencurigakan, ingatkan penjualnya. Kalau tetap bandel, tangkap dan serahkan ke polisi. Kalau takut, laporkan saja ke Bhabinkamtibmas atau Babinsa setempat,” pungkasnya.
Fenomena penyalahgunaan Tramadol dan Eksimer di wilayah Jatiasih menunjukkan darurat sosial yang membutuhkan penanganan kolaboratif lintas sektor, agar generasi muda tidak terus menjadi korban dari lemahnya pengawasan dan penegakan hukum.(F)