Ibu Korban Balita 3 Tahun Tuntut Keadilan, Kasus Aniaya Anak Pacar Di Medan
MEDAN, Update Cerita Indonesia – Seorang balita berusia 3 tahun, AYP, ditemukan tewas setelah menjadi korban penganiayaan oleh kekasih ibunya, Zul Iqbal (38), di Medan, Sumatera Utara. 1 April 2025
Kejadian tragis ini menggegerkan masyarakat setempat dan memunculkan sorotan terkait perlindungan anak serta kekerasan dalam rumah tangga.
Kronologi peristiwa bermula pada 22 Maret 2025, saat Zul Iqbal menjemput AYP dari rumah ibu korban, Pia (32), dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama anak tersebut. Namun, pada 23 Maret 2025, Pia merasa khawatir karena Zul menghalanginya untuk menjemput AYP dengan alasan anak tersebut sedang demam.
Setelah beberapa hari tidak ada kabar, Pia akhirnya pergi menjemput anaknya pada 25 Maret 2025. Saat tiba, ia mendapati AYP dalam kondisi demam dan terlihat luka memar di beberapa bagian tubuhnya.
Pia segera membawa anaknya ke rumah sakit, namun sayangnya AYP tidak dapat diselamatkan dan meninggal dunia pada sore harinya. Pihak rumah sakit awalnya menduga penyebab kematian akibat penyumbatan usus, namun karena adanya kecurigaan dari pihak keluarga, pihak berwajib kemudian melakukan ekshumasi pada 28 Maret 2025. Hasil autopsi menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik berupa luka memar di dahi, bibir, dan kaki, serta tanda penyiksaan lainnya yang mengindikasikan penyebab kematian bukan karena penyakit.
Setelah diselidiki lebih lanjut, Zul Iqbal mengakui telah melakukan penyiksaan terhadap AYP dengan cara memukul, menendang, dan melilitkan handuk pada leher korban. Zul juga mengaku menggantungkan tubuh anak tersebut dengan cara mencengkramkannya pada handuk yang diikatkan di leher, yang menyebabkan patahnya tulang leher korban.
Pihak kepolisian Polrestabes Medan telah menetapkan Zul Iqbal sebagai tersangka dan menahannya di sel tahanan. Pelaku dijerat dengan Pasal 80 Ayat 3 juncto Pasal 76 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang mengancam hukuman penjara hingga 15 tahun.
Ibu korban, Pia, beserta keluarga merasa sangat terpukul dan marah atas kejadian ini. Pia mengungkapkan, "Saya sangat kecewa dan tidak pernah menyangka ZI bisa melakukan ini. Anak saya tidak pantas mengalami perlakuan seperti itu," ujarnya dengan suara gemetar. Pia berharap agar pelaku dihukum setimpal dan kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua orang tua.
Kasus ini memicu keprihatinan luas di masyarakat, yang menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan anak-anak, serta perlunya pengawasan lebih ketat untuk melindungi anak-anak dari tindak kekerasan. Pihak kepolisian berjanji akan mengusut tuntas kasus ini dan memastikan keadilan bagi korban.(Syah)