Alat Penambal Gigi Rusak, Pasien Puskesmas Jatikramat Gagal Dapat Pelayanan Maksimal
BEKASI, Update Cerita Indonesia — Kota Bekasi memiliki 12 kecamatan dan 56 kelurahan yang masing-masing dilengkapi fasilitas Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun ironisnya, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas pelayanan yang optimal, seperti yang terjadi di Puskesmas Jatikramat.
Berdasarkan keluhan warga, sejumlah peralatan penunjang pelayanan kesehatan di Puskesmas Jatikramat dilaporkan dalam kondisi rusak. Salah satu yang paling krusial adalah alat penambal gigi yang tidak dapat digunakan, sehingga menghambat pelayanan kesehatan gigi bagi pasien.
Seorang ibu pasien bernama Ati, warga Jatikramat, mengaku kecewa saat membawa anaknya untuk pemeriksaan gigi. Niat awal untuk melakukan penambalan gigi harus kandas lantaran alat medis yang dibutuhkan dalam kondisi rusak.
“Saat periksa, pihak Puskesmas bilang mesin penambal gigi rusak dan belum tahu kapan bisa dipakai kembali,” keluh Ati.
Menurut Ati, pihak Puskesmas menyampaikan bahwa kerusakan alat tersebut telah dilaporkan kepada atasan. Namun hingga saat ini, belum ada kepastian kapan perbaikan akan dilakukan.
“Katanya sudah dilaporkan ke atasannya soal alat rusak, tapi belum ada tindak lanjutnya,” tambahnya.
Akibat kejadian tersebut, anak Ati tidak mendapatkan pelayanan maksimal. Pemeriksaan gigi tidak bisa dilakukan sesuai kebutuhan dan pasien hanya diberikan obat, lalu dipersilakan pulang.
“Gak jadi ditambal gigi anak saya gara-gara mesinnya rusak. Akhirnya cuma dikasih obat sama Puskesmas,” ujarnya.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar terkait pengelolaan dan penggunaan dana pemeliharaan Puskesmas, yang seharusnya dialokasikan untuk memastikan seluruh peralatan kesehatan dalam kondisi layak pakai dan siap digunakan.
Menanggapi hal tersebut, aktivis Johner Simanjuntak menyayangkan lemahnya pengawasan dan pemeliharaan fasilitas kesehatan di tingkat Puskesmas.
“Kami sangat menyayangkan kondisi ini. Seharusnya peralatan kesehatan menjadi prioritas utama. Apakah ada pembiaran atau dana pemeliharaan tidak digunakan sebagaimana mestinya? Hingga kini kami juga belum mengetahui sejauh mana teknis dan pelaksanaan perbaikan alat kesehatan yang rusak tersebut,” ujar Johner kepada wartawan, Rabu (17/12/2025).
Johner juga mendesak Wali Kota Bekasi dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke seluruh Puskesmas di Kota Bekasi guna memastikan kesiapan alat kesehatan serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Saya minta Wali Kota Bekasi dan Kadinkes Kota Bekasi turun langsung ke setiap Puskesmas, cek semua alat kesehatan dan pelayanan agar masyarakat tidak dirugikan oleh kejadian seperti ini,” tegasnya.
Sementara itu, pihak Puskesmas Jatikramat hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan maupun klarifikasi resmi dari pihak terkait.
Kondisi tersebut dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi Dinas Kesehatan Kota Bekasi, khususnya dalam hal pengawasan, pemeliharaan sarana kesehatan, serta komitmen terhadap pelayanan publik yang prima.(Man)