Warga Dayeuh Tuding SMK Bina Tehnika Abaikan Dampak Pembangunan, Rumah Rusak Diduga Tak Diganti Rugi
BOGOR, Update Cerita Indonesia – Seorang warga berinisial MS yang tinggal berdampingan dengan bangunan SMK Bina Tehnika di Desa Dayeuh, RT 001 RW 001, Gang Alfurqon, kecamatan Cileungsi Kabupaten Bogor, mengeluhkan dugaan dampak pembangunan gedung sekolah yang disebut merugikan kondisi rumah miliknya.
Keluhan tersebut disampaikan MS pada Minggu (17/5/2026). Ia menilai pembangunan gedung sekolah diduga tidak memperhatikan sistem drainase dan dampak lingkungan terhadap rumah warga di sekitarnya.
Menurut pengakuan MS, tampias air hujan dari atap gedung sekolah disebut langsung mengarah ke area rumahnya akibat saluran drainase yang dinilai tidak sesuai.
“Gedung sekolah tidak sesuai perda terkait drainase saluran air hujan di samping dinding gedung. Air dari atap gedung nyiprat ke area rumah saya dan tidak ada tindakan preventif perbaikan terhadap fasilitas yang bersinggungan dengan rumah warga,” ujar MS kepada tim media.
MS mengaku rumah miliknya telah berdiri lebih dahulu dibanding bangunan sekolah tersebut. Ia juga menyebut saat awal pembangunan terjadi penebangan pohon dan aktivitas pengerukan tanah menggunakan alat berat yang diduga berdampak terhadap kondisi bangunan rumahnya.
“Waktu pembangunan awal, ada penebangan pohon sampai menimpa atap rumah saya. Selain itu pengerukan pondasi menggunakan eskavator membuat pondasi rumah bergeser dan dinding dapur roboh. Sampai sekarang belum ada ganti rugi,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, MS juga mengeluhkan adanya puing sisa material bangunan sekolah yang ditumpuk di samping gedung dan disebut menyebabkan rembesan air ke dinding rumahnya.
Akibatnya, dinding rumah disebut menjadi lembab dan rapuh sehingga dikhawatirkan membahayakan kondisi bangunan ke depan.
“Puing bangunan ditaruh di samping gedung sekolah sehingga menyebabkan rembesan air ke dinding rumah saya. Dinding jadi lembab, rapuh, dan dikhawatirkan cepat rusak,” katanya.
Selain kerusakan dinding, MS mengklaim atap rumah pecah, dudukan balok patah, pagar balkon roboh, serta sejumlah kerusakan lain hingga kini belum mendapatkan penggantian dari pihak sekolah.
Ia juga mengaku pernah dijanjikan pekerjaan terkait proyek pembangunan sekolah sebagai bentuk kompensasi, namun disebut tidak pernah direalisasikan.
“Waktu itu dijanjikan pekerjaan pagar dan railing akan diberikan ke saya, tapi ternyata tidak ada sama sekali. Saya merasa dibohongi,” ujarnya.
MS turut menyoroti penggunaan kabel yang disebut melintas di atas dak rumah miliknya tanpa koordinasi maupun izin dari pihak sekolah.
Menurutnya, pemindahan tiang listrik akhirnya dilakukan pihak PLN setelah dirinya melapor terkait jalur kabel yang dinilai tidak sesuai.
“Pihak sekolah tidak pernah ada komunikasi ataupun permohonan maaf secara lisan maupun tertulis. Sampai sekarang juga belum ada ganti rugi,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, tim media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak manajemen SMK Bina Tehnika terkait keluhan warga tersebut, termasuk mengenai dugaan kerusakan bangunan rumah warga, sistem drainase, dan persoalan kompensasi yang dipersoalkan.