Ribuan Visa Mahasiswa China Di Cabut AS Untuk Lindungi Keamanan Nasional
WASHINGTON, Update Cerita Indonesia – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan baru yang akan mencabut visa ribuan mahasiswa asal China yang dianggap memiliki hubungan dengan Partai Komunis China (PKC) atau menempuh studi di bidang yang dianggap sensitif bagi keamanan nasional.
Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebagai bagian dari upaya memperketat pengawasan terhadap mahasiswa internasional dan mencegah potensi pencurian teknologi serta informasi strategis.
"Langkah ini diambil untuk melindungi kepentingan nasional Amerika Serikat," ujar Rubio dalam konferensi pers baru-baru ini.
Dampak kebijakan ini dirasakan langsung oleh sekitar 277.000 mahasiswa China yang saat ini menempuh pendidikan di berbagai universitas di AS.
Mereka menghadapi ketidakpastian besar terkait status visa dan kelanjutan studi mereka. Pemerintah AS juga telah menangguhkan sementara penjadwalan wawancara visa baru bagi mahasiswa internasional sembari menerapkan proses screening yang lebih ketat, termasuk pemeriksaan aktivitas media sosial para pemohon visa.
Kebijakan ini mendapat kecaman dari pemerintah China yang menilai tindakan AS sebagai diskriminatif dan merugikan hak-hak mahasiswa China.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan kebijakan tersebut dapat merusak hubungan pendidikan dan pertukaran budaya antara kedua negara.
Di sisi lain, negara-negara seperti Australia mulai mempersiapkan diri untuk menerima mahasiswa China yang terdampak kebijakan AS. Beberapa universitas di Australia melihat peluang untuk menampung mahasiswa internasional yang mencari alternatif pendidikan.
Para mahasiswa China yang terkena dampak mengungkapkan rasa kecewa dan kekhawatiran terhadap masa depan pendidikan mereka. Sementara itu, institusi pendidikan tinggi di AS juga menyatakan keprihatinan karena kontribusi mahasiswa internasional sangat penting bagi keberagaman dan pendanaan universitas.
Kebijakan pencabutan visa ini menandai eskalasi ketegangan dalam hubungan pendidikan dan keamanan antara AS dan China, serta berpotensi mempengaruhi dinamika pendidikan internasional secara global.(Man)