Prabowo Soroti Ketimpangan Kekayaan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
ST.PETRSBURG - Update Cerita Indonesia — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyoroti persoalan ketimpangan distribusi kekayaan di Indonesia, meskipun ekonomi nasional menunjukkan tren pertumbuhan stabil dalam tujuh tahun terakhir.
Dalam pidatonya pada St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Rusia, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen per tahun, atau secara akumulatif sekitar 35 persen sejak 2018. Namun, ia menilai pertumbuhan ini belum memberikan dampak pemerataan yang signifikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Kekayaan nasional masih terkonsentrasi pada kurang dari satu persen populasi. Ini bukan formula yang baik untuk keberhasilan sebuah bangsa," tegas Prabowo di hadapan para pemimpin dunia, ekonom, dan pelaku bisnis internasional, Jumat (20/6).
Prabowo juga menyinggung potensi besar Indonesia yang kaya akan sumber daya alam seperti hutan, tambang, dan komoditas strategis. Ia mengingatkan bahwa kekayaan tersebut bisa menjadi "kutukan sumber daya" jika tidak dikelola secara adil, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat.
"Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terlalu sering mengikuti arus kekuatan global. Kita harus membangun pendekatan sendiri dalam mengelola ekonomi kita," ujarnya.
Dalam forum ekonomi internasional tahunan tersebut, Prabowo menyerukan pentingnya membangun sistem ekonomi yang berorientasi pada keadilan sosial, kemandirian nasional, dan kepentingan rakyat, bukan semata-mata mengikuti model negara besar yang belum tentu sesuai dengan konteks Indonesia.
SPIEF 2025 menjadi penampilan perdana Presiden Prabowo di panggung global sejak resmi dilantik sebagai Presiden RI pada Oktober 2024. Kehadirannya menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional yang setara, berdaulat, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.(Man)