Jokowi Doakan Paus Fransiskus di Pemakaman, Sikapnya Tuai Kontroversi
VATIKAN, Update Cerita Indonesia — Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang diutus oleh Presiden Prabowo Subianto, hadir dalam upacara pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan pada Sabtu (26/4/2025).
Dalam prosesi tersebut, Jokowi terlihat melakukan doa khas umat Islam di hadapan peti jenazah Paus Fransiskus. Tindakan ini kemudian menuai berbagai reaksi di kalangan masyarakat Indonesia, dengan banyak pihak yang menyayangkan sikapnya sebagai tokoh yang juga beragama Islam.
Jokowi, mengenakan setelan jas hitam dan peci, terlihat berdiri di depan peti jenazah Paus dan mengangkat tangan, melakukan doa yang dikenal dalam tradisi Islam.
Meskipun doa tersebut tidak secara eksplisit meminta ampunan untuk Paus, banyak yang menilai sikap tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam terkait berdoa untuk non-Muslim yang telah meninggal.
Pandangan Hukum Islam Tentang Doa Untuk Non-Muslim, Dalam Islam, berdoa bagi orang non-Muslim yang telah wafat, terutama untuk ampunan atau rahmat, tidak dibolehkan oleh mayoritas ulama.
Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dan orang beriman tidak boleh memintakan ampunan untuk orang musyrik, meskipun mereka adalah keluarga terdekat, sebagaimana tertulis dalam Surah At-Taubah ayat 113.
"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka."
(QS. At-Taubah: 113)
Selain itu, ulama seperti Imam An-Nawawi menegaskan bahwa berdoa untuk ampunan bagi non-Muslim yang sudah meninggal adalah haram. Oleh karena itu, sebagai tokoh Muslim, Jokowi seharusnya menjaga sikap yang sesuai dengan ajaran Islam dalam menghadiri upacara seperti ini.
Sikap yang Seharusnya Ditempuh Sebagai seorang tokoh beragama Islam, Jokowi seharusnya mengambil sikap yang lebih hati-hati.
Meskipun menghadiri acara diplomatik penting, sikap yang lebih sesuai dengan ajaran Islam adalah memberikan penghormatan secara sekuler, tanpa melibatkan doa yang mengandung permohonan ampunan.
Sikap seperti berdiri hening atau menyampaikan belasungkawa secara netral bisa menjadi alternatif yang lebih tepat, sesuai dengan kaidah agama Islam.
Dalam hal ini, penghormatan terhadap pemimpin dunia seperti Paus Fransiskus dapat dilakukan dengan sikap yang menunjukkan rasa hormat terhadap peran dan jasa beliau dalam menyebarkan kedamaian, tanpa mengorbankan prinsip akidah yang menjadi dasar ajaran agama.
Pemerintah Indonesia melalui utusan Prabowo mengirim Jokowi sebagai wakil dalam prosesi pemakaman Paus, yang juga dihadiri oleh berbagai pemimpin dunia dan keluarga kerajaan. Namun, tindakan Jokowi yang berdoa di hadapan peti jenazah Paus masih menjadi sorotan dan perdebatan publik.(Man)