Indonesia Tak Kekurangan Profesor tapi Masyarakat Harus Waspadai Profesor Google
SEMARANG, Update Cerita Indonesia – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan akademisi unggul. Hal itu ia sampaikan dalam sambutan pada Upacara Dies Natalis ke-60 Universitas Negeri Semarang (UNNES), Minggu (8/6/2025).
Dalam pidatonya, Mu’ti memuji sosok Rektor UNNES, Prof. Dr. Martono, sebagai salah satu contoh profesor yang memiliki kapasitas keilmuan tinggi.
“Indonesia tidak kekurangan profesor yang hebat. Rektor UNNES adalah contoh nyata profesor dengan integritas dan keilmuan yang kuat,” kata Mu’ti di hadapan sivitas akademika.
Namun di sisi lain, Mu’ti mengingatkan tentang tantangan di era digital, yakni maraknya ketergantungan masyarakat pada mesin pencari seperti Google. Ia menyebut fenomena ini sebagai “profesor Google” dan “ustaz Google”.
“Ada profesor Google yang menjawab apapun yang kita perlukan. Kita juga punya para ustaz dan ulama luar biasa, tapi juga ada ustaz Google yang bisa memberikan jawaban apapun yang diinginkan manusia,” ujarnya.
Menurut Mu’ti, perbedaan mendasar terletak pada sumber jawaban. Profesor dan ulama sejati merujuk pada keilmuan dan metodologi ilmiah, sementara jawaban dari internet sangat bergantung pada input masyarakat yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Mu’ti menekankan pentingnya literasi digital dan kemampuan masyarakat dalam membedakan antara informasi berbasis keilmuan dengan opini bebas yang tersebar di internet.
Acara Dies Natalis ke-60 UNNES ini dihadiri oleh jajaran rektorat, dosen, mahasiswa, serta tokoh pendidikan nasional. Momentum ini dijadikan refleksi untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjaga kualitas keilmuan di tengah arus informasi digital yang terus berkembang.(Man)