Food Waste Jadi Sorotan, DKP Bogor Dorong Perubahan Perilaku Lewat Inovasi “Ngupahan”

BOGOR, Update Cerita Indonesia – Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor memperkenalkan inovasi bertajuk “Ngupahan”, sebuah sistem pengelolaan sisa pangan (food waste) berbasis digital yang dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola pangan dan tidak membiasakan perilaku boros makanan.

Program tersebut menjadi salah satu langkah Pemkab Bogor dalam merespons persoalan meningkatnya sampah organik dan pemborosan pangan yang selama ini dinilai masih menjadi tantangan di tengah masyarakat.

“Ngupahan” dikembangkan sebagai konsep pengelolaan sisa pangan, baik yang masih layak konsumsi (edible food waste) maupun yang tidak layak (inedible food waste), melalui pendekatan ekonomi sirkular yang terintegrasi dalam sebuah aplikasi digital.

Sistem ini dirancang menghubungkan masyarakat, komunitas, hingga kelembagaan desa dalam satu ekosistem yang terukur dan partisipatif, mulai dari proses pemilahan hingga pemanfaatan kembali sisa pangan.

Kepala DKP Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menegaskan bahwa persoalan utama dalam pengelolaan food waste bukan hanya soal sampah, tetapi menyangkut perubahan budaya dan pola perilaku masyarakat.

“Kita ingin membangun budaya, agar masyarakat terbiasa tidak boros pangan dan mampu mengelola sisa makanan dengan bijak. Ini bukan hanya soal sampah, tetapi soal kesadaran bersama,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu menjadi sarana edukasi sekaligus pengawasan agar perubahan perilaku masyarakat dapat berjalan lebih terukur.

“Kita dorong masyarakat untuk terlibat aktif, mulai dari memilah, memanfaatkan, hingga mengelola sisa pangan. Semua itu tercatat dalam sistem, sehingga ada edukasi sekaligus motivasi melalui insentif,” tambahnya.

Dalam implementasinya, aplikasi “Ngupahan” menghadirkan sejumlah fitur seperti Pojok Edukasi, Piring Berbagi, Bank Kompos, dan Berdikari Mart. Fitur-fitur tersebut dirancang tidak hanya sebagai sarana edukasi, tetapi juga untuk membuka peluang nilai ekonomi dari pengelolaan sampah organik.

Meski demikian, keberhasilan program ini dinilai sangat bergantung pada konsistensi partisipasi masyarakat serta kesiapan infrastruktur pendukung di tingkat desa.

Sebagai tahap awal, program akan diterapkan di Desa Gunung Putri dan Desa Susukan sebagai wilayah percontohan dalam membangun budaya pengelolaan pangan yang lebih bertanggung jawab.

Camat Gunung Putri, Kurnia Indra, menyatakan dukungannya terhadap implementasi program tersebut. Ia menilai inovasi “Ngupahan” sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam membangun desa percontohan yang lebih peduli terhadap lingkungan.

“Pada prinsipnya kami mendukung dan siap. Desa Gunung Putri saat ini juga sedang berbenah dan sejalan dengan arahan Bupati untuk menjadi desa percontohan,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat.

“Yang paling penting adalah komitmen kita bersama. Dengan kolaborasi yang baik, kita optimistis upaya membangun budaya tidak boros pangan ini bisa berjalan maksimal,” tambahnya.

Melalui inovasi “Ngupahan”, Pemerintah Kabupaten Bogor berharap dapat membangun kesadaran kolektif bahwa pangan merupakan sumber daya berharga yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, sekaligus menekan volume food waste demi menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan.(F)

UpdateCerita TV