Budi S.Kamri; Gaya KDM Ciptakan Superman Tapi Tak Bangun Superteam

JAKARTA, Update Cerita Indonesia — Praktisi komunikasi publik, Budi S. Kamri, menyampaikan pandangan kritisnya terhadap gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau disebut Kang Dedi Mulyadi (KDM) dalam diskusi Indonesia Lawyers Club bertajuk “Habis Mulyono Terbitlah Mulyadi”, yang tayang baru-baru ini.

Dalam acara tersebut, Budi mengawali pernyataannya dengan mengungkapkan bahwa dirinya adalah penggemar awal Dedi Mulyadi sejak menjabat sebagai Wakil Bupati hingga Bupati Purwakarta. Menurutnya, Dedi kala itu menunjukkan gaya kepemimpinan yang unik dan membumi.

Namun, Budi mulai mempertanyakan arah kepemimpinan Dedi setelah terjun ke panggung politik nasional. Salah satu kritik utamanya adalah keterlibatan Dedi yang begitu dalam dalam kasus Vina Cirebon yang menurutnya sarat dengan muatan elektoral. 

“Saya melihat ini sebagai investasi politik. Dan memang terbukti, masyarakat kita senang dengan pemimpin yang turun langsung ke akar persoalan,” ujarnya.

Budi menilai bahwa keberhasilan elektoral Dedi Mulyadi tak lepas dari kemampuannya memanfaatkan media sosial secara maksimal. 

Ia menyebut akun YouTube Dedi telah mencapai lebih dari 7 juta pelanggan, dan mengutip data yang menyebut penghasilan dari kanal tersebut bisa mencapai miliaran rupiah.

Namun demikian, Budi menggarisbawahi bahwa kepopuleran di media sosial tidak serta-merta mencerminkan keberhasilan dalam membangun tim pemerintahan yang solid. 

Ia menyoroti minimnya eksistensi Wakil Gubernur Jawa Barat di ruang publik, sebagai indikasi lemahnya kerja tim di balik kepemimpinan Dedi.

“Mohon maaf, sampai detik ini saya belum tahu wajah wakil gubernurnya seperti apa,” ucap Budi, seraya menyindir absennya pembagian peran yang jelas di pemerintahan provinsi.

Budi juga menyentil gaya komunikasi Dedi Mulyadi yang dinilainya terlalu reaktif terhadap kritik. “Dia sangat sadar kamera. Apapun yang dilakukan, harus dapat atensi publik. Tapi dia terlalu reaktif. Ketika dikritik KPAI, langsung defensif. Harusnya, kalau mau belajar dari Jokowi, dia harus lebih kalem dan tidak mudah tersulut,” tambahnya.

Menariknya, Budi sempat membuat konten berjudul “Akankah Dedi Mulyadi Menjadi Jokowi Berikutnya?” yang justru menuai serangan dari para pendukung Dedi. Ia menyebut fanatisme pendukung sebagai tantangan tersendiri dalam diskursus publik yang sehat.

Sebagai penutup, Budi mengingatkan agar Dedi tidak terjebak dalam pola kepemimpinan yang mengulang inkonsistensi dan jebakan politik seperti yang ia kritik dari pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Jangan sampai Dedi Mulyadi yang potensial ini justru layu sebelum berkembang,” tandasnya.(Man)

UpdateCerita TV